Lompat ke konten

Pengenalan Akad Salam, Ijarah, dan Rahn

  • oleh
akad

Akad Salam

Akad Salam berasal dari Kata as-salam yang maknanya adalah menjual sesuatu dengan sifatsifat tertentu, masih dalam tanggung jawab pihak penjual tetapi pembayaran segera atau tunai. Para ulama fikih menamakannya dengan istilah al-Mahawi’ij, yaitu sesuatu yang mendesak, karena jual beli tersebut barangnya tidak ada di tempat, sementara dua belah pihak yang melakukan jual beli dalam keadaan terdesak.

Dalam jual beli salam, spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati oleh pembeli dan penjual di awal akad. Ketentuan harga barang pesanan tidak dapat berubah selama jangka waktu akad. Dasar Hukum Akad Salam berasal dari Hadist Nabi diantaranya adalah Hadis riwayat Ibn Majah, Berbunyi: “Dari Shuhaib ra, bahwasanya Nabi SAW berkata; ada tiga hal yang padanya berkah yaitu jual beli Tangguh, jual beli muqaradhah (mudharabah) dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan dirumah sendiri bukan untuk dijual”. Dengan dasar dalil ini, maka transaksi atau jual beli dengan salam dibolehkan.


Rukun dalam Akad Salam diantaranya adalah: Pembeli (muslam),Penjual (muslam ilahi),Modal uang (annuqud),Barang (muslam fihi) dan Serah terima barang ( Ijab qabul).

Syarat syarat Jual Beli Salam adalah sebagai berikut : Ada kerelaan di antara dua belah pihak dan tidak ingkar janji serta Cakap dalam bertindak

Kegiatan pre-order/indent merupakan wujud dari penerapan akad Istisna yaitu merupakan suatu jenis khusus dari akad bay’ as-salam (jual beli salam). Jenis jual beli ini dipergunakan dalam bidang manufaktur. Pengertian bay’ Istishna’ adalah akad jual barang pesanan diantara dua belah pihak dengan spesifikasi dan pembayaran tertentu. Barang yang dipesan belum diproduksi atau tidak tersedia di pasaran. Pembayarannya dapat secara kontan atau dengan cicilan tergantung kesepakatan kedua belah pihak.

Akad Ijarah

Akad Ijarah adalah segala macam perjanjian yang menyangkut for profit transaction. Akad ini dilakukan dengan tujuan mencari keuntungan, karena bersifat komersil. ijarah adalah sebuah transaksi atas suatu manfaat, dalam hal ini manfaat menjadi objek transaksi dan dalam segi ini ijarah dapat dibagi menjadi 2, yaitu Ijarah yamg mentransaksikan manfaat harta benda yang lazim disebut persewaan, misalnya menyewakan rumah, kendaraan pertokoan dan lain sebagainya dan Ijarah yang mentransaksikan manfaat sumberdaya manusia yang lazim disebut pemburuhan.

Dasar hukum pelaksanaan akad ijarah terdapat pada surat Ath-Thalaq ayat 6 dan Al-Baqarah ayat 233.

Yang menjadi landasan ijarah dalam ayat diatas adalah ungkapan “maka berikanlah upahnya” dan“ apabila kamu memberikan pembayaran yang patut”, hal ini menunjukkan adanya jasa yang diberikan berkat kewajiban membayar upah secara patut.

Rukun Akad Ijarah, Rukun- rukun ijarah yang harus dipenuhi ada 4 macam, yaitu : Pelaku akad yaitu must’jir (penyewa), mu’jir/mu’ajir (pemilik) adalah pihak pemilik yang menyewakan asset, Objek akad, yaitu ma’jur (aset yang disewakan), Ujrah (harga sewa) dan Sighat yaitu ijab dan qabul.

Syarat ijarah yang harus ada agar terpenuhi ketentuan-ketentuan hukum Islam, adalah
sebagai berikut :

  • Jasa atau manfaat harus tertentu dan diketahui dengan jelas oleh kedua belah pihak.
  • Kepemilikan aset tetap pada yang menyewakan, Akad ijarah dihentikan pada saat aset yang bersangkutan berhenti memberikan manfaat kepada penyewa.
  • Aset tidak boleh dijual kepada penyewa dengan harga yang ditetapkan sebelumnya pada saat kontrak berakhir.

Akad Rahn

Akad Rahn (gadai) adalah kegiatan menahan barang jaminan yang bersifat materi milik si peminjam (rahin) sebagai jaminan atau pinjaman yang diterimanya, dan barang yang diterima tersebut bernilai ekonomi sehingga pihak yang menahan (murtahin) memperoleh jaminan untuk mengambi kembali seluruh atau sebagian utangnya dari barang gadai dimaksud bila pihak yang menggadaikan tidak dapat membayar utang pada waktu yang ditentukan.

Dasar Hukum Akad Rahn terdapat dalam Q.S Al-Baqarah ayat 283 dan Hadist nabi (HR Bukhari II/729 (no.1962) dalam kitab Al-Buyu’, dan Muslim III/1226 (no. 1603) dalam kitab Al-Musaqat).


Rukun Rahn memiliki empat rukun:

  • Rahin adalah orang yang memberikan gadai
  • Murtahin adalah orang yang menerima gadai
  • Marhun atau rahn adalah harta yang digadaikan untuk menjamin utang
  • Marhun bih adalah utang Syarat Rahn,

Menurut jumhur ulama, syarat gadai(Rahn) ada empat, yaitu :

  • Syarat Aqid(cakap)
  • Syarat Sighat(tak bersyarat)
  • Syarat Marhun(jual beli)
  • Syarat Marhun Bih(Jaminan)